Awas!! Inilah Enam Faktor Penyebab Santri Gagal dalam Menuntut Ilmu

Ilustrasi: Para santri sendang belajar mengaji kitab kuning

SEDANGHANGAT.COM – Santri adalah harapan masa depan bagi tersebarnya pengetahuan agama Islma di muka bumi. Karenanya, mereka selain memperhatikan sebab kesuksesan, juga harus tahu tentang penyebab kegagalan dalam menuntut ilmu agama.

Itulah pesan penting KH Abdurrohman Asnawi selaku Pengasuh Pesantren Talukagung dalam pengajian bulanan yang diadakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Cijati, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (1/1/2019)

Dilansir dari NU Online, dalam forum yang dikemas dengan pengajian kitab Tafsir Jalalain dan Fawa’idul Makkiyyah tersebut, KH Abdurrohman Asnawi menyebutkan setidaknya ada enam sebab seseorang gagal dalam menuntut ilmu agama.    “(1) Ngandelaken hari esok, (2) gumantung pada kacardasan, (3) cacagnakaeun, (4) mengaji sambil usaha,(5)  nyamper-nyamper jalma benghar, dan (6) cicing dinu benghar,” kata kiai sepuh tersebut bertutur dalam bahasa Sunda yang kental.

Maksudnya?  Ngandelaken hari esok, artinya seorang santri jangan sampai menunda-nunda mengaji. Menunda mengaji di pesantren hanya akan menyebabkan seseorang menyesal karena akan kehilangan kesempatan. Belum tentu di esok hari sempat mengikuti pengajian.    Berikutnya yakni seorang santri hendaknya tidak bergantung kepada kecerdasannya sendiri. Ia harus memperhatikan adab dan sopan santun kepada guru serta istikamah dalam mengaji.    “Cacagnakaeun artinya berpindah pondok pesantren padahal belum menuntaskan satu kitab pun. Ini akan menyebabkan santri tidak memperoleh ilmu yang cukup,” jelasnya.    Mengaji sambil berusaha juga menjadi sebab penting kegagalan belajar ilmu agama. Sehingga perlu totalitas, fokus dan konsentrasi dalam belajar agama.    “Nyamper jalma benghar berarti mendatangi orang kaya untuk meminta-minta sumbangan. Ini juga dapat menjadi sebab kegagalan,” katanya.    Sedangkan cicing dinu benghar berarti tinggal di rumah orang kaya.    “Terkadang hal itu akan membuat seorang santri terpalingkan semangat belajarnya dan terobsesi dengan kekayaan orang lain,” urainya.

Karena itu, KH Abdurrohman juga mengingatkan agar para kiai NU yang hadir dalam pengajian tersebut yang umumnya adalah pengasuh pesantren di desanya, agar menyampaikan kepada santri bahwa jangan sampai dalam hati terbersit ingin dapat derajat mulia di masyarakat.    Selain itu, jangan putus harapan bagi santri yang kurang cerdas dan santri yang cerdas jangan sampai mengandalkan kecerdasannya sehingga jatuh dalam kesombongan.   “Yang bodoh jangan putus harapan, yang pintar jangan andalkan kapintaran,” pungkas pengasuh pesantren tertua di kawasan Cianjur Selatan tersebut. (sumber nu online)

Add Comment