Kisah Nyata; Rajin Ibadah, Tapi Durhaka kepada Ibu, Begini Nasibnya

Ilustrasi

SEDANGHANGAT.COM – Jika Anda ingin bahagia dunia adan akhirat, kuncinya adalah bisa seimbang dalam menjaga hubungan ke atas (vertikal) dan ke samping (horisontal). Hubungan ke atas maksudnya menjaga hubungan dengan Allah (habumminallah) dan hubungan ke sampingi yakni menjaga hubungan kepada sesama manusia (hablumminnas), utamanya menjaga hubungan kepada kedua orang tua.

Hablumminallah, maksudanya adalah taat dan beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Hablumminnas, maksudanya bisa menjalin hubungan dengan baik sesame manusia. Apalagi menjaga hubungan dengan tua. Jangan pernah Anda menyakiti orang tua. Jangan pernah Anda mengabaikan orang tua. Doa orang tua sangat mustajab. Begitu orang tua sakit hati, lalu tidak sengaja terbersit sebuah doa, maka akan langsung dijabah Allah. Beruntung kalau doanya baik, namun menjadi petaka kalau ternyata doanya buruk. Karena sakit hati, yang muncul adalah sumpah serapah.

Serajin-rajinnya manusia dalam beribadah kepada Allah, namun jika tidak bisa menjaga hubungan baik kepada orang tua, utamanya- sang ibu, jangan harap hidup Anda akan bahagia. Meskipun apa yang perbuat itu mungkin tidaklahlah disengaja. Misal karena begitu sayangnya kepada istri, sampai melupakan ibunya. Begitu punya istri, langsung lupa kepada orang tuanya.

Anda tidak percaya? Berikut simak kisah seoarang sahabat nabi yang taat ibadah, namun saat sakarotul maut dia sangat kesulitan. Dia sangat menderita.

Alkisah, pada zaman Rasulullah ada seorang pemuda beribadah tanpa kenal lelah, tekun melaksanakan salat, sering berpuasa dan gemar bersedekah. Alqamah namanya. Masa demi masa berlalu, Alqamah nyaris tak bisa lagi menjalankan rutinitas ibadahnya. Sebab Alqamah dirundung sakit yang sangat dahsyat mencekam.

Melihat suami tergeletak tak bisa bergerak, sang istri mengadu kepada Rasulullah perihal Alqamah. Melalui pesuruhnya, istri Alqamah menitip pesan kepada manusia agung, “Ya Rasul, aku mengadu kepadamu perihal suamiku. Sesungguhnya ia sekarang dalam naza’ (akan dicabut ruhnya).” Tanpa berlama-lama Rasulullah saw. mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah untuk menjenguk Alqamah. Beliau bersabda, “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah.”

Ketiga sahabat Rasul itu pun pergi untuk bertandang ke rumah Alqamah. Sampai di rumah, benar saja, ternyata Alqamah sudah dalam keadaan naza’, dengan segera mereka men-talqin-nya. Alqamah yang tenar segala keahlian ibadahnya ternyata tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah. Sontak saja mereka laporkan kejanggalan ini pada Rasulullah. Lalu Rasulullah bertanya, “Apakah salah satu orang tunya ada yang masih hidup?”

Ada yang menjawab, “Ada wahai Rasulullah, Alqamah masih mempunyai seorang ibu yang hampir dimakan usia karena sudah tua.”
“Sampaikan kepada ibu Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan bersualah dengan Rasulullah maka datanglah. Jika tidak, berdiamlah ditempat biar Rasulullah saja yang datang bertemu.” Tatkala utusan sampai pada ibu Alqamah dan pesan Rasulullah disampaikan. Dengan segala kearifan Ibu Alqamah, “Aku yang lebih pantas untuk menghadap Rasulullah.” Dia pun pergi dengan tongkat sebagai alat bantu. Ibu Alqamah mengucapkan salam dan Rasulullah pun menjawab salamnya.
Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”

Sang ibu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia rajin mengerjakan salat, banyak puasa dan senang bersedekah.” Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Lalu bagaimana sikapmu padanya?” Ibu Alqamah menjawab, “Saya marah kepadanya Wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi, “Kenapa?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan dia pun durhaka kepadaku.”
Maka, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.” Kemudian beliau bersabda, “Wahai Bilal, kumpulkan kayu bakar yang banyak untukku.” Ibu Alqamah menyahut, “Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau perbuat?” Rasul menjawab, “Saya akan bakar Alqamah hidup-hidup.”

Ibu Alqamah berkata, “Wahai Rasulullah, dia (Alqamah) anakku. Aku tak sampai hati melihatnya dibakar.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu Alqamah, sesungguhnya azab Allah lebih pedih dan lebih abadi, kalau engkau ingin agar Allah mengampuni Alqamah, maka ridai-lah ia. Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, salat, puasa dan sedekah Alqamah tidak akan memberi manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya.”

Lalu ibu Alqamah berkata, “Wahai Rasulullah, Allah sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah ridha pada anakku, Alqamah”. Rasulullah pun berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, jenguklah Alqamah dan lihatlah apakah dia sudah bisa mengucapkan syahadat atau belum. Mungkin ibu Alqamah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya lantaran malu kepadaku.”

Bilal pun berangkat, ternyata dia mendengar Alqamah dari dalam rumah mengucapkan La Ilaha Illallah. Maka, Bilal pun masuk dan berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridhanya telah menjadikanya mampu mengucapkan syahadat.”
Kemudian, Alqamah pun meninggal dunia saat itu juga. Maka, Rasulullah melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau mensalatkannya dan menguburkannya.

Lalu, di pinggir kuburan dan bersabda, “Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertobat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridhanya, karena ridha Allah tergantung pada ridhanya dan kemarahan Allah tergantung pada kemarahannya.”

Dinukil dan diolah dari kitab Irsyadu al-‘Ibad Syaikh Zainuddin al-Malibari.

 

(Sumber Bincangsyariah)

Add Comment